Minggu, 01 Mei 2011

BAB 7 kepemimpinan dalam organisasi

kesuksesan dan kegagalan suatu organisasi selalu dihubungkan dengan kepemimpinan, namun sebenarnya kepemimpinan sendiri masih merupakan suatu konsep yang sulit di terangkan , berikut tiga pentingnya studi
  1. studi lippit dan white yang dilakukan oleh ronald lippit dan ralph k. white pada akhir tahun 1930-an
  2. studi ohio state biro penelitian bisnis di ohio state university mencoba menganalisa bermacam-macam dimensi perilaku pemimpin yang efektif dalam beberapa kelompok dan situasi.
  3. studi early michigan studi ini dilakukan oleh pusat penalitian survei university of michigan pada tahun 1947
 hasilnya menunjukan bahwa para mandor yang bekerja di seksi highproducing lebih menyukai:
  • untuk menerima pengadilan yang lebih bersifat umum dari pada yang khusus
  • sejumlah wewenang dan tanggung jawab yang mereka punyai daam pekerjaannya
  • mempergunakan waktunya untuk penendalian
  • memberikan pengendalian lebih umum kepada para karyawannya dari pada yang khusus
  • orientasi lebih pada karyawan daripada orientasi pada produksi
Sedangkan bagi para mandor yang bekerja pada seksi 'low-producing' mempunyai ciri-ciri dan teknik-teknik
yang berlawanan, yaitu pengendalian khusus dan orientasi pada produksi.

Teori Sifat Kepimpinan

Teori-teori sifat (trait theories) mengemukakan bahwa pemimpin itu dilahirkan bukan dibuat, teori ini, sering disebut juga teori "great-man", lebih lanjut menyatakan bahwa seseorang itu dilahirkan membawa atau tidak membawa ciri-ciri atau siifat-sifat yang diperlukan bagi seorang pemimpin, atau dengan kata lain individu yang lahir telah membawa ciri-ciri tertentu yang memungkinkan dia dapat menjadi seorang pemimpin.

Keith Davis mengikhtisarkan ada 4 ciri utama yang mempunyai pengaruh terhadap kesuksesan kepemimpinan dalam organisasi:
  1. Kecerdasan (intelligence)
  2. "Kedewasaan sosial" dan hubungan sosial yang luas
  3. motivasi diri dan dorongan berprestasi
  4. sikap-sikap "hubungan manusiawi"
Teori Kelompok
teori kelompok dalam kepemimpinan (group theory of leadership) dikembangkan atas dasar ilmu psikologi sosial. Teori ini menyaakan bahwa untuk pencapaian tujuan-tujuan kelompok harus ada pertukaran yang positif antara pemimpin dan bawahannya. hal ini tampak pula dari hasil studi Ohio State khusunya dimensi pemberian perhatian (consideration) pada para bawahannya yang akan memperluas pandangan kelompok terhadap kepemimpinan.


Teori Situasional (Contingency)
Pendekatan sifat maupun kelompok terbukti tidak memadai untuk mengungkap teori kepemimpinan yang menyeluruh, perhatian dialihkan pada aspek-aspek situasional kepemimpinan. Fred Fiedler telah mengajukan sebuah model dasar situasional bagi efektivitas kepemimpinan yang dikenal sebagai contingency model of leadership effectiveness. Model ini menjelaskan hubungan antara gaya kepemimpinan dan situasi yang menguntungkan atau menyenangkan. Situasi-situasi  tersebut digambarkan oleh Fiedler dalam tiga dimensi empirik yaitu 1). Hubungan pimpinan dengan anggota 2). Tingkat dalam struktur tugas dan 3). posisi kekuasaan pemimpin yang didapatkan melalui wewenang formal.
Penemuan Fiedler menunjukan bahwa dalam situasi yang sanagat menguntungkan atau sangat tidak menguntungkan tipe pemimpin yang berorientasi pada tugas atau pekerjaan (task directed atau hard nosed) adalah sangat efektif. tetapi bila situasi yang sangan mengentungkan atau tidak menguntungkan hanya moderat (terletak pada range tengah), tipe pemimpi hubungan manusiawi atau yang toleran dan lunak (leinent) akan sangat efektif.
empat tipe atau gaya pokok perilaku pemimpin yaituh:
  1. kemimpinan direktif (directive leadership)
  2. kemimpinan suportif (supportive leadership)
  3. kemimpinan partisipatif (participative leadership)
  4. kepemimpinan orientasi-prestasi (achievement-oriented leadership)
gaya kepemimpinan adalah suatu cara pemimpin untuk mempengaruhi bawahannya. tiga macam gaya kepemimpinan yang berbeda yaitu : otokratis , demokratis, atau partisipatif, dan laissez-faire.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar